PALANGKARAYA – Kinerja perbankan umum di Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan tren positif hingga Februari 2026, tercermin dari peningkatan aset, dana pihak ketiga, serta penyaluran kredit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa sektor perbankan di daerah masih mampu tumbuh di tengah dinamika ekonomi yang berkembang, sekaligus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan.
Aset bank umum tercatat meningkat sebesar Rp9,47 triliun atau 10,97 persen secara tahunan (year on year), dari Rp86,35 triliun pada Februari 2025 menjadi Rp95,83 triliun pada Februari 2026.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan sebesar Rp2,90 triliun atau 5,99 persen yoy, dari Rp48,43 triliun menjadi Rp51,34 triliun.
Penyaluran kredit atau pembiayaan turut meningkat sebesar Rp4,35 triliun atau 8,68 persen yoy, dari Rp50,18 triliun menjadi Rp54,53 triliun pada Februari 2026.
“Kinerja perbankan yang tumbuh positif ini menunjukkan sektor jasa keuangan di Kalimantan Tengah tetap stabil dan mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, Rabu (01/04/2025).
Namun demikian, tingkat kredit bermasalah (NPL/NPF) tercatat meningkat sebesar 0,45 persen yoy, dari 1,82 persen menjadi 2,27 persen, yang tetap perlu menjadi perhatian dalam menjaga kualitas kredit.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit masih didominasi oleh kredit konsumtif sebesar Rp21,54 triliun atau 39,51 persen dari total kredit, diikuti kredit modal kerja sebesar Rp17,06 triliun atau 35,49 persen, serta kredit investasi sebesar Rp13,33 triliun atau 25 persen.
Dari sisi sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar masih berada pada sektor rumah tangga sebesar Rp21,21 triliun atau 38,89 persen dari total kredit, disusul sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp16,66 triliun atau 30,56 persen.
Sektor lainnya yang juga mendapatkan penyaluran kredit antara lain industri pengolahan sebesar Rp1,04 triliun, aktivitas jasa lainnya Rp0,96 triliun, serta konstruksi sebesar Rp0,86 triliun.
Sementara itu, berdasarkan jenis usaha, penyaluran kredit masih didominasi oleh kredit non-UMKM sebesar Rp36,20 triliun atau 66,39 persen dari total kredit.
Adapun kredit mikro tercatat sebesar Rp9,10 triliun atau 16,69 persen, kredit kecil sebesar Rp5,88 triliun atau 10,79 persen, dan kredit menengah sebesar Rp3,34 triliun atau 6,12 persen dari total penyaluran kredit.
“Kinerja ini diharapkan dapat terus dijaga dengan memperhatikan kualitas kredit serta mendorong penyaluran pembiayaan yang produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tandasnya.(sct)


















