PALANGKARAYA – Sebagai upaya memperkuat ekosistem usaha terintegrasi dari hulu hingga hilir di Kota Palangka Raya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) komoditas buah naga
Kegiatan ini merupakan dukungan terhadap inisiatif Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam pengembangan Kampung UMKM Buah Naga Desa Misik, Kelurahan Kalampangan yang diluncurkan pada Desember 2025, sekaligus pelaksanaan mandat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
FGD tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Darliansjah, Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Kalimantan Tengah, Organisasi Perangkat Daerah, Lembaga Jasa Keuangan, pelaku industri, serta calon offtaker.
Kampung UMKM Buah Naga Desa Misik memiliki potensi besar sebagai sentra produksi dengan luas lahan eksisting sekitar 150 hektare yang dapat diperluas hingga 300 hektare, melibatkan sekitar 120 petani dengan produktivitas mencapai 1.000 kilogram per hektare.
Dari sisi pembiayaan, dukungan Lembaga Jasa Keuangan juga terus menguat dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp6,6 miliar kepada petani setempat, dengan peluang peningkatan yang masih terbuka seiring pengembangan usaha.
Di sektor hilir, BGN Regional Kalimantan Tengah menyatakan kesiapan menyerap produksi buah naga, sementara industri perhotelan melalui M Bahalap Hotel Palangka Raya juga siap memanfaatkan buah lokal sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz menegaskan bahwa keberhasilan Program PED sangat ditentukan oleh penguatan ekosistem yang terintegrasi secara menyeluruh.
“Penetapan offtaker atau agregator yang kredibel menjadi langkah awal untuk menjamin kepastian pasar, yang diperkuat melalui perluasan akses business-to-business, serta didukung pembiayaan berkelanjutan dan sinergi lintas sektor agar program PED berjalan optimal, inklusif, dan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya belum lama ini.
Sementara itu, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi Kalimantan Tengah, Darliansjah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan peran sektor jasa keuangan, kita ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah baik dapat ditransformasikan menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Ditempat yang sama, Kepala BGN Regional Kalimantan Tengah, Elisa Agustino menyampaikan bahwa Program SPPG berpotensi menjadi penggerak ekonomi sekaligus offtaker bagi produksi petani lokal.
“Dengan kebutuhan bahan baku yang besar dan berkelanjutan, program ini membuka peluang luas bagi petani lokal untuk menjadi pemasok utama,”
“BGN siap mendukung dan menyerap hasil panen petani, sehingga diperlukan penguatan koordinasi dan pemanfaatan potensi lokal secara optimal guna memastikan ketersediaan pasokan yang berkelanjutan,” ungkap Elisa.
Kegiatan juga diisi dengan pemaparan OJK terkait Program PED berbasis komoditas buah naga serta berbagi pengalaman petani mengenai pengelolaan usaha, tantangan, dan peluang pengembangan.
Melalui diskusi interaktif bersama OPD, LJK, pelaku industri, dan calon offtaker, dibahas dukungan konkret dari sisi pembiayaan, produksi, hingga kesiapan penyerapan hasil panen.
Sebagai hasil FGD, disepakati bahwa komoditas buah naga menjadi fokus Program PED Kalimantan Tengah Tahun 2026, dengan komitmen seluruh pihak untuk membangun ekosistem usaha yang terintegrasi dan berkelanjutan.(sct)




