PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Tengah bersama Kantor Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalimantan Tengah menggelar Training of Trainers Pengelolaan Keuangan Syariah dan Pengenalan Indonesia Anti Scam Centre (IASC) di Aula Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Selasa (24/2/2026).
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz menyampaikan bahwa penyuluh agama dan penghulu memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi keuangan kepada calon pengantin.
“Penyuluh agama dan penghulu memiliki peran yang sangat dekat dengan calon pengantin, khususnya pada fase bimbingan perkawinan. Di titik inilah edukasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga menjadi krusial. Tanpa pemahaman yang baik, calon pengantin sangat rentan terjebak dalam keputusan finansial yang berisiko dan merugikan, bahkan sejak awal membangun rumah tangga,” ujarnya.
Ia menegaskan, melalui pelatihan ini peserta diharapkan mampu menjadi agen literasi keuangan syariah di lingkungan masing-masing, terutama selama Ramadan ketika aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat meningkat.
Pemahaman yang baik mengenai produk dan layanan keuangan syariah dinilai penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan finansial secara bijak dan terhindar dari aktivitas keuangan ilegal.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan syariah sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan keuangan digital menjelang Ramadan 2026.
Berdasarkan data riset yang dipaparkan dalam kegiatan itu, 72 persen kesehatan mental dipengaruhi oleh kesehatan keuangan, sementara 45 persen ketidakpastian finansial masa depan menjadi faktor utama penyebab stres.
Selain itu, tercatat 33 persen pasangan di Indonesia mengalami perceraian karena faktor ekonomi. Data tersebut menjadi landasan pentingnya penguatan edukasi pengelolaan keuangan keluarga di masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Ketua MES Kalimantan Tengah, serta para penyuluh agama, penghulu, dan pengurus masjid dari seluruh kabupaten/kota yang mengikuti secara luring dan hybrid.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias dalam sambutannya menyoroti perkembangan digitalisasi yang kian pesat.
“Kemudahan transaksi digital memberikan manfaat besar, namun juga menghadirkan risiko penipuan jika tidak diimbangi dengan literasi yang memadai,” kata Yuliansah
Berdasarkan indeks keamanan digital, Indonesia masih tertinggal 40,4 persen, sehingga penipuan atau scam di sektor keuangan masih marak terjadi. Karena itu, Bank Indonesia terus bersinergi dengan OJK untuk meningkatkan literasi dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus kejahatan digital.
“Saya menghimbau kepada masyarakat dengan tagline ‘Kalau Ragu, Stop Dulu’ masyarakat harus mengecek terlebih dahulu setiap menemukan modus digital mencurigakan dan melaporkan melalui kanal resmi kami,” tegas Yuliansah.
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. H. Amruddin, S.Ag., M.Pd menyampaikan apresiasi atas sinergi para pemangku kepentingan dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Saya berharap semoga melalui kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang baik oleh masyarakat terutama mengenai keuangan Syariah serta mampu memperkuat Lembaga jasa keuangan Syariah,”
“Dengan adanya Lembaga Jasa Keuangan Syariah diharapkan Ekonomi keuangan Syariah dapat menjadi pilar yang mampu mendukung kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah,” tandas Amruddin.
Ia menilai pelatihan ini merupakan program strategis dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di daerah.(Red/sct)
















