Habitat HCV PT IFP Dinilai Layak Dukung Kelestarian Orangutan

FORESTRY20 Dilihat

KAPUAS – Kawasan High Conservation Value (HCV) milik PT Industrial Forest Plantation (PT IFP) kembali dipercaya menjadi lokasi translokasi orangutan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah.

Kepercayaan tersebut menjadi indikator bahwa kawasan konservasi perusahaan memiliki kualitas habitat yang baik untuk mendukung kehidupan satwa dilindungi di alam liar.

Satu individu orangutan jantan bernama Suraman ditranslokasikan ke kawasan HCV PT IFP sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Tengah.

Kegiatan tersebut dilaksanakan menjelang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan menjadi kelanjutan dari program konservasi yang telah berjalan sebelumnya.

Suraman merupakan orangutan jantan berusia 23 tahun yang berasal dari Desa Telaga, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan.

Sebelum dilepasliarkan, satwa tersebut menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan dan kajian teknis untuk memastikan kondisinya layak menempati habitat baru yang telah disiapkan.

Lokasi pelepasliaran berada di kawasan HCV Gawing yang memiliki luas sekitar 12.000 hektare. Kawasan ini diperkirakan menjadi habitat bagi sekitar 73 individu orangutan yang hidup secara alami di dalam bentang hutan konservasi tersebut.

Pemilihan kawasan HCV PT IFP sebagai lokasi translokasi tidak terlepas dari kondisi habitat yang dinilai memenuhi kebutuhan hidup orangutan.

Kawasan tersebut masih memiliki tutupan hutan yang baik, sumber pakan alami yang memadai, serta tingkat gangguan yang relatif rendah sehingga mampu mendukung proses adaptasi satwa di alam liar.

Keberadaan vegetasi alami yang beragam menjadi faktor penting dalam mendukung kelangsungan hidup orangutan.

Selain menyediakan sumber makanan, kondisi hutan yang terjaga juga memberikan ruang jelajah yang aman bagi satwa untuk berkembang biak dan mempertahankan populasinya.

Kehadiran Suraman menambah jumlah orangutan yang memanfaatkan kawasan konservasi PT IFP sebagai habitat.

 

FOTO : Individu orangutan jantan bernama Suraman saat pelepasliaran.

 

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa fungsi ekologis kawasan masih berjalan dengan baik dan mampu mendukung keberlangsungan berbagai spesies satwa liar yang dilindungi.

Kawasan HCV PT IFP sebelumnya juga telah menjadi lokasi translokasi beberapa individu orangutan pada tahun 2025.

Keberhasilan program tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penempatan kembali satwa hasil penyelamatan ke area konservasi perusahaan.

Selain menjaga kualitas habitat, PT IFP secara konsisten menjalankan berbagai program perlindungan kawasan konservasi.

Kegiatan tersebut meliputi patroli rutin, pemantauan biodiversitas, pengendalian aktivitas ilegal, serta edukasi kepada masyarakat dan pekerja mengenai pentingnya menjaga kelestarian flora dan fauna liar.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kawasan konservasi tetap berfungsi sebagai habitat alami bagi berbagai spesies penting di Kalimantan.

Pengelolaan yang berkelanjutan juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di wilayah operasionalnya.

“Apresiasi kami sampaikan kepada BKSDA Kalimantan Tengah dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses translokasi ini,”

“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan satwa liar serta ekosistem hutan yang menjadi penopangnya,” ujar manajemen PT IFP, Kamis (04/06/2026).

Dengan kembali dipilihnya kawasan HCV PT IFP sebagai lokasi translokasi, perusahaan menilai kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan habitat yang dilakukan selama ini memberikan manfaat nyata bagi konservasi satwa liar.

“Translokasi Suraman menjadi bukti bahwa kawasan konservasi PT Industrial Forest Plantation memiliki kualitas habitat yang baik dan mampu mendukung upaya pelestarian orangutan,”

“Kepercayaan yang diberikan oleh BKSDA Kalimantan Tengah menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus menjaga dan meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan,” tandasnya.(sct)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *