Hari Lahir Pancasila Perkuat Persatuan dan Keadilan Sosial

BARITO SELATAN48 Dilihat

BUNTOK – Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 yang digelar di Halaman Kantor Bupati Barito Selatan, Senin (01/06/2026).

Upacara tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah berbagai tantangan global yang terus berkembang.

Pada kesempatan itu, Eddy Raya Samsuri membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi.

Dalam pidato tersebut ditegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momen penting untuk melakukan refleksi dan memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia hingga saat ini mampu berdiri kokoh sebagai bangsa yang majemuk dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku bangsa yang dipersatukan dalam semangat kebangsaan yang sama.

Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dilandasi nilai-nilai Pancasila.

Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan geopolitik, hingga ancaman fragmentasi sosial, Pancasila dinilai tetap menjadi pedoman utama yang menjaga arah perjalanan bangsa Indonesia.

“Peringatan Hari Lahir Pancasila lebih dari sekadar seremoni tahunan. Hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia,” ujar Yudian melalui pidato yang dibacakan Bupati Eddy Raya Samsuri.

Ia menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya menjadi penonton dalam percaturan dunia internasional.

Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dalam konteks tersebut, Pancasila menjadi fondasi penting bagi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Nilai musyawarah dan mufakat yang terkandung dalam Pancasila juga dinilai relevan sebagai instrumen diplomasi dalam menjembatani berbagai perbedaan dan membantu penyelesaian konflik di tingkat global.

“Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif,” katanya menambahkan.

Lebih lanjut disampaikan bahwa kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peran aktif dalam mediasi berbagai konflik regional, serta komitmen memperjuangkan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih tertindas merupakan implementasi nyata dari nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.

Pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan moral dan karakter bangsa.

Tanpa landasan nilai yang kuat, kemajuan yang dicapai berpotensi kehilangan arah dan tidak memberikan manfaat yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat.

Karena itu, generasi muda diharapkan mampu menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai luhur Pancasila tidak boleh hanya menjadi simbol atau sekadar tulisan dalam dokumen sejarah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dalam pidatonya, Yudian berpesan kepada para menteri dan kepala daerah agar setiap kebijakan publik yang dihasilkan selalu berlandaskan prinsip keadilan sosial, menjamin hak-hak masyarakat, serta memberikan perlindungan kepada kelompok yang paling membutuhkan perhatian.(sct)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *