PALANGKARAYA – Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana pelestarian sekaligus promosi budaya daerah.
“Kemajuan teknologi dapat menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” kata Faridawaty Darland Atjeh belum lama ini.
Ketua DPW Partai Nasdem Kalteng ini menilai arus globalisasi yang semakin kuat tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi keberlangsungan budaya daerah.
Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi generasi muda untuk memperkenalkan identitas budaya lokal ke tingkat nasional maupun internasional melalui berbagai platform digital.
Ia mengatakan Gen Z memiliki keunggulan dalam kreativitas serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
“Gen Z memiliki keunggulan dalam kreativitas dan penguasaan teknologi. Jika diarahkan ke hal positif, mereka bisa menjadi motor utama dalam menjaga dan memajukan warisan budaya kita,” kata Faridawaty menambahkan.
Menurutnya, saat ini banyak ruang digital yang dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya daerah dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterima generasi muda.
Berbagai platform media sosial, aplikasi kreatif, hingga teknologi digital lainnya membuka peluang besar untuk mengemas budaya dalam bentuk yang lebih modern.
Faridawaty menjelaskan bahwa karya kreatif berbasis digital mampu menjadi jembatan antara budaya tradisional dan generasi masa kini.
Melalui pendekatan tersebut, budaya lokal dapat disajikan dengan cara yang lebih relevan tanpa menghilangkan nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Dirinya mencontohkan berbagai bentuk karya yang dapat dikembangkan oleh generasi muda, seperti video pendek bertema budaya, musik tradisional yang dikemas secara modern, ilustrasi digital, hingga permainan edukatif yang mengangkat unsur kearifan lokal.
“Banyak anak muda yang sudah mulai menampilkan seni tari, musik etnik, maupun kuliner khas daerah lewat konten digital. Cara ini sangat efektif memperkenalkan budaya hingga ke luar negeri,” tambahnya lebih dalam lagi.
Faridawaty menilai perkembangan teknologi telah memberikan kesempatan yang lebih luas bagi budaya daerah untuk dikenal oleh masyarakat global.
Dengan memanfaatkan media digital secara kreatif, berbagai kekayaan budaya lokal dapat menjangkau audiens yang sebelumnya sulit dicapai melalui cara-cara konvensional.
Pentingnya dukungan dari pemerintah daerah dan lembaga pendidikan dalam mendorong keterlibatan generasi muda pada bidang seni dan budaya.
Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan fasilitas, pelatihan, serta ruang kreatif yang memungkinkan anak muda mengembangkan potensi mereka.
Menurutnya lebih dalam lagi, kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas kreatif akan memperkuat upaya pelestarian budaya di era digital.
Semakin banyak ruang yang tersedia bagi generasi muda untuk berkarya, semakin besar pula peluang budaya daerah untuk berkembang dan dikenal luas.
Faridawaty menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak berarti menolak modernisasi. Justru dengan menggabungkan teknologi dan kearifan lokal, budaya dapat terus hidup, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta diwariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang lebih relevan.
“Kalau teknologi bisa digunakan untuk hiburan, maka seharusnya juga bisa digunakan untuk menjaga jati diri bangsa. Dengan begitu, budaya kita tidak hanya bertahan, tetapi berkembang bersama zaman,” tutupnya.(sct)

















