PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah berperan aktif dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui webinar internasional bertajuk “Pelatihan Literasi & Aplikasi Smart PMI untuk PMI di Korea Selatan” yang digelar secara daring, Sabtu.
Kegiatan yang diselenggarakan Proyek Berbasis Masyarakat Universitas (PBMU) Siber Muhammadiyah bersama Komunitas Migran Indonesia (KMI) dan Forkomasi Korea Selatan tersebut diikuti PMI yang bekerja dan berdomisili di Korea Selatan.
Webinar ini bertujuan membekali para pekerja migran dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital.
Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), sepanjang Januari hingga April 2026 telah dilakukan 97.423 layanan penempatan PMI ke berbagai negara.
Namun, di balik kontribusi tersebut, para pekerja migran masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam pengelolaan keuangan dan risiko penipuan yang dapat mengurangi manfaat ekonomi dari hasil kerja mereka di luar negeri.
Pada periode yang sama, KP2MI menerima sebanyak 1.111 pengaduan dari PMI. Dari jumlah tersebut, 50 pengaduan berkaitan dengan jaminan sosial PMI dan 24 pengaduan terkait penipuan peluang kerja.
Data tersebut menunjukkan masih perlunya penguatan edukasi dan perlindungan bagi pekerja migran Indonesia.
Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Bambang Riyanta menekankan pentingnya peningkatan kapasitas PMI secara menyeluruh, tidak hanya dalam aspek pekerjaan, tetapi juga kesehatan mental, keamanan digital, dan pengelolaan keuangan.
“PMI merupakan salah satu aset bangsa yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memiliki bekal pengetahuan yang memadai agar mampu mengelola keuangan dengan bijak, menjaga keamanan digital, serta memahami hak dan perlindungan yang dimiliki selama bekerja di luar negeri,” terangnya, Sabtu (31/05/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Manajer OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Ika Budhi Pratiwi menyampaikan materi mengenai perencanaan keuangan yang bijak, pentingnya menabung dan berinvestasi pada instrumen keuangan legal, serta berbagai modus penipuan dan investasi ilegal yang marak berkembang di era digital.
Selain memberikan edukasi keuangan, OJK Provinsi Kalimantan Tengah juga memperkenalkan Buku Saku Literasi Keuangan bagi PMI yang telah diluncurkan pada November 2025.
Buku tersebut diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi PMI dan keluarganya dalam mengelola keuangan secara berkelanjutan.
“Literasi keuangan bagi PMI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengatur uang, tetapi juga merupakan upaya perlindungan diri. PMI yang terliterasi dengan baik akan lebih mampu mengambil keputusan keuangan yang tepat, terhindar dari jeratan aktivitas keuangan ilegal, serta dapat memanfaatkan hasil kerjanya untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” terang Ika.
Webinar tersebut juga menghadirkan narasumber dari bidang kesehatan mental dan keamanan siber, yakni Dokter Puskesmas Buminabung Muhammad Sandi Setiawan serta pakar keamanan siber PTPN Group Fatikho Kautsar.
Keduanya memberikan pembekalan terkait pentingnya menjaga kesehatan mental dan keamanan data pribadi selama bekerja di luar negeri.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait strategi pengelolaan gaji, perlindungan data pribadi, investasi yang aman, hingga cara menjaga keseimbangan mental selama menjalani pekerjaan di negara lain.
Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kebutuhan akan edukasi yang relevan dengan kondisi pekerja migran.
Melalui kegiatan tersebut, OJK berharap para PMI semakin siap menghadapi tantangan di era digital, mampu mengelola keuangan secara lebih baik, serta terhindar dari berbagai modus penipuan yang berpotensi merugikan.
Upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat kesejahteraan PMI dan keluarganya melalui pemanfaatan hasil kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Dengan literasi keuangan yang baik, PMI tidak hanya mampu melindungi diri dari risiko keuangan, tetapi juga dapat memanfaatkan penghasilannya untuk menciptakan masa depan yang lebih sejahtera bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya,” tandas Ika.(sct)
















