Mei 2026, Inflasi Kalteng Tercatat 4,56 Persen Secara Year on Year

EKONOMI & BISNIS268 Dilihat

PALANGKARAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 4,56 persen pada Mei 2026.

Kenaikan harga yang terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Tengah naik menjadi 112,35 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 107,45.

Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, S.Si., M.M., mengatakan inflasi tahunan terjadi merata pada seluruh kelompok pengeluaran yang dipantau. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tekanan harga pada berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, transportasi hingga jasa.

“Pada Mei 2026, Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 4,56 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 112,35,”

“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 5,15 persen dengan IHK 113,56, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sukamara sebesar 3,74 persen dengan IHK 113,64,” ujarnya dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di ruang Vicon Kantor BPS Kalteng, Jalan Kapten Pierre Tendean Nomor 6, Kota Palangka Raya, Selasa (02/06/2026).

Maria menjelaskan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan sebesar 10,43 persen.

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 6,90 persen, kelompok transportasi 3,70 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran 3,43 persen, serta kelompok pendidikan 3,03 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami inflasi sebesar 2,11 persen.

Sementara itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,60 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,01 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,92 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,77 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,06 persen.

Menurut Maria, sejumlah komoditas memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan di Kalimantan Tengah.

Komoditas tersebut antara lain beras, emas perhiasan, ikan nila, minyak goreng, sigaret kretek mesin, ikan gabus, angkutan udara, cabai rawit, solar, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, bawang merah, ikan bakar, ikan peda, nasi dengan lauk, kopi bubuk, daging ayam ras, telur ayam ras, sigaret kretek tangan, dan ikan saluang.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang menahan laju inflasi karena memberikan andil deflasi.

Komoditas tersebut meliputi bawang putih, sabun deterjen bubuk, terong, bensin, bayam, cabai merah, sabun mandi cair, kelapa, kunyit, daging babi, cumi-cumi, dan rampela hati ayam.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) Kalimantan Tengah pada Mei 2026 sebesar 0,34 persen. Adapun inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat mencapai 2,15 persen.

“Secara bulanan, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain beras, solar, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, angkutan udara, ikan patin, pelumas atau oli mesin, ketimun, pasir, dan kacang panjang,”

“Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, telur ayam ras, tomat, dan terong,” jelasnya.

Lebih lanjut, Maria mengungkapkan seluruh daerah sampel IHK di Kalimantan Tengah mengalami inflasi secara tahunan.

Kabupaten Kapuas mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 5,15 persen, disusul Kota Palangka Raya sebesar 4,48 persen dan Sampit sebesar 4,18 persen. Sementara itu, Kabupaten Sukamara menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 3,74 persen.

Pada perkembangan bulanan, tiga daerah mengalami inflasi dan satu daerah mengalami deflasi. Inflasi m-to-m tertinggi tercatat di Kota Palangka Raya sebesar 0,70 persen, sedangkan Kabupaten Kapuas mengalami deflasi sebesar 0,32 persen.

“Data inflasi ini menunjukkan tekanan harga masih dipengaruhi oleh sejumlah komoditas pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga,”

“Informasi tersebut menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat di seluruh wilayah Kalimantan Tengah,” tandas Maria.(sct)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *