KAPUAS – PT Industrial Forest Plantation (PT IFP) kembali menerima mahasiswa magang dari Institut Pertanian (INSTIPER) Yogyakarta sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di bidang kehutanan.
Program tersebut menjadi implementasi pembelajaran berbasis praktik (experiential learning) yang menghubungkan teori akademik dengan pengalaman langsung di lapangan.
Mahasiswa yang mengikuti program magang berasal dari Program Studi Hutan Tanaman Industri dan Konservasi. Selama beberapa bulan ke depan, mahasiswa ini akan menjalani rotasi di sejumlah departemen strategis untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai tata kelola hutan tanaman industri yang berkelanjutan.
“Mahasiswa akan mengikuti program magang lintas departemen sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis praktik (experiential learning), yang menghubungkan teori akademik dengan kondisi lapangan secara langsung,” kata Manajemen PT IFP, Edya Zaid, belum lama ini.
Selama program berlangsung ujar Zaid menambahkan, mahasiswa akan memperoleh pengalaman di Departemen Plantation, Nursery, Occupational Health, Safety and Fire-Forest Sustainability (OHSF-FS), Training and Research Center (TRC) Mangkutup.
Serta beberapa departemen operasional lainnya sehingga memahami secara komprehensif siklus pengelolaan hutan tanaman industri mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, aspek keselamatan kerja, konservasi hingga pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa dari Yogyakarta menjadi indikator meningkatnya kepercayaan perguruan tinggi terhadap PT IFP sebagai mitra pembelajaran.
Dalam perspektif pendidikan vokasi maupun akademik, dunia industri memiliki peran sebagai living laboratory yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan kompetensi teknis, kemampuan analitis, serta keterampilan profesional melalui pengalaman nyata di lapangan.
Salah satu keunggulan PT IFP sebagai lokasi magang adalah keberhasilannya mengelola hutan tanaman industri pada lahan Spodosol. Jenis tanah tersebut dikenal memiliki tingkat kesuburan rendah, kandungan unsur hara terbatas, kapasitas tukar kation yang rendah, serta karakteristik fisik dan kimia yang menantang bagi pertumbuhan tanaman.
“Pengelolaan lahan Spodosol memerlukan pendekatan yang presisi melalui penerapan teknik silvikultur adaptif, penggunaan bibit unggul, pengelolaan nutrisi yang tepat,”
“serta pemeliharaan tanaman secara intensif agar produktivitas tetap optimal. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa dalam memahami penerapan ilmu kehutanan di lapangan,” katanya menambahkan.
Selain aspek produksi, mahasiswa juga akan mempelajari pengelolaan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) yang menjadi bagian penting dari lanskap operasional PT IFP.
Kawasan ini memiliki fungsi ekologis yang vital sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, menjaga keseimbangan ekosistem, kualitas air, penyimpanan karbon, serta keanekaragaman hayati.
Melalui pendampingan di Training and Research Center (TRC) Mangkutup, mahasiswa akan memperoleh pengalaman mengenai monitoring biodiversitas, pengelolaan kawasan konservasi, penelitian lapangan, hingga implementasi program kolaborasi bersama pemerintah, akademisi, dan lembaga konservasi.
Pembelajaran tersebut memberikan pemahaman bahwa konservasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik pengelolaan hutan berkelanjutan.
“Manajemen PT Industrial Forest Plantation menyambut baik kehadiran mahasiswa magang dan berharap pengalaman selama berada di perusahaan dapat memperkaya wawasan, meningkatkan kompetensi profesional, serta membentuk karakter calon rimbawan yang adaptif terhadap tantangan pengelolaan sumber daya hutan di masa depan,” pungkasnya.
Disisi lain, Health, Safety, Environment (HSE/OHSF), Irwan Alfian menyampaikan bahwa program magang ini juga menjadi media transfer pengetahuan antara dunia akademik dan dunia industri.
“Berbagai persoalan yang ditemui di lapangan dapat menjadi bahan kajian ilmiah, sementara hasil penelitian dari perguruan tinggi diharapkan memberikan masukan bagi penyempurnaan praktik pengelolaan perusahaan,” kata Irwan.
Sinergi tersebut ujarnya menambahkan, menjadi implementasi konsep triple helix yang memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Melalui program ini, PT IFP kembali menegaskan perannya tidak hanya sebagai perusahaan pengelola hutan tanaman industri, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, pelatihan, penelitian, dan inovasi yang terbuka bagi perguruan tinggi.
“Kehadiran mahasiswa dari luar Pulau Kalimantan menjadi bukti bahwa praktik pengelolaan yang diterapkan PT IFP telah memperoleh pengakuan sebagai referensi pembelajaran lapangan, khususnya dalam pengelolaan hutan tanaman pada lahan marginal serta konservasi keanekaragaman hayati dalam satu bentang alam yang terintegrasi,” tutupnya.(sct)


















