PALANGKARAYA – Empat mahasiswa lintas jurusan dari Universitas Palangka Raya (UPR) mengembangkan inovasi kosmetik tradisional berbasis bahan alam khas Kalimantan Tengah melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang didanai Kemendikbudristek.
Penelitian tersebut menghasilkan rancangan bedak dingin generasi baru yang memadukan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat untuk membantu mengatasi masalah kulit berminyak.
Ketua Tim Riset Mahasiswa, Anisa Nugraha Heni dalam press releasenya mengatakan bahwa inovasi tersebut berangkat dari persoalan kulit berminyak yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya remaja dan dewasa muda.
“Kondisi iklim tropis Indonesia membuat produksi minyak atau sebum pada wajah cenderung tinggi. Kondisi tersebut kerap disertai berbagai persoalan kulit, seperti jerawat dan komedo,” kata Anisa.
Lanjutnya, Survei ZAP Beauty Index mencatat lebih dari sepertiga perempuan Indonesia mengeluhkan masalah kulit berminyak.
Kondisi itu menjadi salah satu dasar tim untuk mengembangkan alternatif kosmetik berbasis bahan alam.
Dari persoalan tersebut, tim mengangkat kembali bedak dingin sebagai warisan kosmetik tradisional Indonesia berbahan dasar beras.
Produk tradisional tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk fungsional dengan pendekatan penelitian ilmiah.
Yang membedakan penelitian ini adalah penggunaan dua bahan aktif dengan mekanisme kerja yang saling melengkapi.
Tim tidak hanya mengandalkan satu bahan aktif sebagaimana penelitian bedak dingin sebelumnya.
Bahan pertama yang digunakan adalah arang aktif kayu tumih (Combretocarpus rotundatus), tumbuhan khas lahan gambut Kalimantan Tengah.
Bahan tersebut berperan sebagai penyerap atau adsorben minyak dan kotoran karena memiliki struktur mikropori serta luas permukaan yang tinggi.
Sementara itu, ekstrak daun putat (Planchonia valida) digunakan untuk menyumbangkan aktivitas bioaktif.
Daun putat mengandung flavonoid, tanin, dan senyawa antioksidan lainnya yang memiliki aktivitas antibakteri serta membantu menyeimbangkan kondisi kulit.
Kombinasi kedua bahan lokal tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian karena pendekatan serupa belum pernah diteliti sebelumnya, khususnya menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur efektivitasnya.
Tim menggunakan skin analyzer untuk mengukur perubahan kadar sebum secara objektif.
Penggunaan alat tersebut menjadi bagian dari upaya tim memperoleh data terukur mengenai efektivitas formulasi yang dikembangkan.
Penelitian ini digagas Anisa Nugraha Heni dari jurusan Fisika sebagai ketua tim, bersama Ade Theresia Hutauruk dari Fisika, Muhammad Ramadhani dari Farmasi, dan Rumita dari Kimia.
Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan dosen pendamping Made Dirgantara, S.Si., M.Si. Kolaborasi lintas disiplin itu mempertemukan bidang fisika, farmasi, dan kimia dalam pengembangan inovasi berbasis bahan alam lokal.
Selain menjalankan penelitian, tim juga aktif memperkenalkan perkembangan riset melalui berbagai forum ilmiah.
Tim telah mengikuti sejumlah kegiatan seminar, di antaranya SEMIRATA, Seminar Mahasiswa, dan BASISTORA.
Keikutsertaan dalam berbagai forum tersebut menjadi bagian dari upaya mendiseminasikan hasil penelitian sekaligus memperluas jejaring akademik di tingkat regional maupun nasional.(sct)



















