JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat pada triwulan II 2026 meski dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi global.
Optimisme tersebut ditopang oleh terjaganya daya beli masyarakat, meningkatnya investasi, percepatan belanja pemerintah, serta sinergi kebijakan yang terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“OJK memperkirakan Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global. Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga yang didukung peran shock absorber APBN melalui efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi belum lama ini.
Selain konsumsi rumah tangga, OJK juga memprakirakan investasi akan tetap tumbuh solid. Kondisi tersebut didukung oleh keberlanjutan proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi serta pembangunan infrastruktur yang menjadi bagian dari program prioritas pemerintah.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan positif. Hal itu sejalan dengan percepatan realisasi belanja pada berbagai program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), serta penyaluran bantuan sosial yang terus berjalan untuk menjaga daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Dirinya menilai koordinasi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus diperkuat guna menjaga kecukupan likuiditas perekonomian maupun sektor perbankan.
Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tetap tinggi sepanjang triwulan II 2026 dan masih meningkat sebesar 15,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli pekan ketiga 2026.
Selain itu, fungsi intermediasi perbankan dinilai semakin membaik sehingga mampu mendukung kebutuhan pembiayaan dunia usaha dan masyarakat. Perkembangan tersebut diharapkan terus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika perekonomian global.
Pada sektor riil, aktivitas industri manufaktur yang sempat mengalami moderasi pada penghujung triwulan II kembali menunjukkan tren ekspansi pada Juli 2026.
Hal itu tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang berada pada level 50,2, sekaligus mengindikasikan pulihnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.
Perkembangan sejumlah indikator tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sekaligus menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Ke depan, sinergi kebijakan antarlembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan,”
“Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diprakirakan berada pada kisaran 5,6 hingga 6,0 persen secara tahunan, yang ditopang berbagai sinergi kebijakan Pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan,” tutupnya.(sct)
















