BRIN dan UPR Uji Teknologi Mutakhir untuk Cegah Karhutla

AKADEMIKA4 views

PALANGKARAYA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan melalui pengujian inovasi teknologi serta pengembangan riset berbasis sains. Langkah tersebut dilakukan melalui kunjungan kerja Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., ke Balai Pengendali Kebakaran Wilayah Kalimantan di Palangka Raya.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Bhayu Rhama, S.T., MBA., Ph.D. Kehadiran pihak universitas menjadi bagian dari upaya menyelaraskan hasil riset akademis dengan penerapan teknologi secara langsung di lapangan.

Agenda utama kunjungan difokuskan pada pengujian sejumlah inovasi untuk mendukung penanganan kebakaran lahan, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Wilayah lahan gambut dan taman nasional menjadi perhatian karena membutuhkan pendekatan penanganan yang tepat serta didukung teknologi dan data yang akurat.

Salah satu teknologi yang diuji coba adalah Dumakron, yakni bahan semai awan hujan berukuran mikro dengan diameter sekitar 2–5 mikron. Bahan tersebut disebarkan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone sebagai bagian dari pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pengujian Dumakron menjadi salah satu langkah pemanfaatan teknologi dalam mendukung upaya penanganan karhutla. Penggunaan drone memungkinkan penyebaran bahan semai awan dilakukan melalui perangkat teknologi yang dapat dioperasikan untuk mendukung kegiatan di lapangan.

Selain pengujian tersebut, rombongan juga melaksanakan verifikasi dan validasi survei menggunakan Drone Thermal dan Drone Lidar. Kedua teknologi ini dimanfaatkan dalam kegiatan survei untuk mendukung pengumpulan informasi kondisi wilayah yang menjadi sasaran pemantauan.

Penggunaan perangkat berbasis teknologi tersebut menjadi bagian dari penguatan metode pengamatan dan pemetaan kawasan rawan karhutla. Data hasil survei diharapkan dapat membantu menghasilkan informasi yang lebih akurat sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun langkah mitigasi dan penanganan kebakaran.

Dalam rangkaian kunjungan kerja itu, Kepala BRIN juga mendatangi Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) UPR. Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat peluang pengembangan riset gambut sekaligus memperkuat hubungan kerja antara lembaga riset nasional dan perguruan tinggi di Kalimantan.

Kolaborasi antara periset BRIN, akademisi UPR, serta tim lapangan Balai Pengendali Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) di Kalimantan diharapkan semakin berkembang. Sinergi ketiga unsur tersebut diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan penanganan karhutla di wilayah rawan.

Rektor UPR, Prof. Bhayu Rhama menegaskan kesiapan pihak universitas untuk mendukung kolaborasi tersebut. UPR siap menerjunkan tim ahli serta memfasilitasi pelaksanaan riset lanjutan melalui PPIIG UPR.

“Dukungan itu diharapkan dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi dan penyediaan data ilmiah terkait kondisi lahan gambut,”

“Dengan keterlibatan tenaga ahli dan fasilitas riset kampus, proses pengkajian serta pengembangan solusi penanganan karhutla dapat dilakukan secara lebih terarah,” kata Prof. Bhayu.

Salah satu hasil yang diharapkan dari kerja sama tersebut adalah tersusunnya peta mitigasi berbasis data dengan tingkat akurasi yang lebih baik. Peta tersebut lanjut Prof. Bhayu, diharapkan menjadi salah satu dasar dalam menentukan kawasan prioritas, memahami potensi kerawanan, serta merancang langkah pencegahan yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Melalui penguatan kerja sama antara BRIN, UPR, dan tim lapangan, penanggulangan karhutla di Kalimantan diharapkan semakin mengedepankan pendekatan preventif. Pemanfaatan hasil riset, inovasi teknologi, dan data lapangan menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan pada pola penanganan setelah kebakaran terjadi.

Kolaborasi ini sekaligus menegaskan pentingnya keterhubungan antara penelitian dan penerapan di lapangan. Upaya pencegahan karhutla membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kerja sama lintas lembaga agar langkah mitigasi dapat disusun secara lebih tepat dan berkelanjutan.

Dengan demikian, kunjungan kerja Kepala BRIN ke Balai Pengendali Kebakaran Wilayah Kalimantan dan PPIIG UPR diharapkan menjadi langkah awal penguatan riset terapan dalam penanggulangan karhutla. Sinergi tersebut diharapkan menghasilkan solusi berbasis sains yang tidak hanya membantu menangani kebakaran, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan sejak dini, tandas Bhayu.(sct)

+ posts