PULANG PISAU – Universitas Palangka Raya (UPR) memperkuat pengelolaan usaha madu kelulut masyarakat Desa Tuwung, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, melalui pelatihan manajemen usaha, pengemasan, dan pemasaran digital.
Kegiatan ini menyasar Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Madu Kelulut untuk meningkatkan daya saing produk dan memperluas jangkauan pasar.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut dilaksanakan tim Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan UPR mengusung tema “Penguatan Manajemen dan Pemasaran Madu Kelulut KUPS Desa Tuwung melalui Kemasan dan Pemasaran Digital”.
Ketua Tim PkM, Trisna Anggreini, S.P., M.Sc. mengatakan bahwa Desa Tuwung memiliki potensi pengembangan madu kelulut yang didukung pengalaman masyarakat dalam menjalankan usaha.
Tantangan berikutnya adalah memperkuat pengelolaan bisnis agar potensi tersebut dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik.
“Masyarakat sebenarnya sudah memiliki produk dan pengalaman menjalankan usaha. Yang ingin kami perkuat adalah bagaimana mereka menghitung biaya dengan benar, mencatat transaksi, menyiapkan kemasan yang konsisten, dan memanfaatkan pemasaran digital. Dengan begitu, usaha madu kelulut tidak hanya berjalan, tetapi juga bisa berkembang secara berkelanjutan,” kata Trisna, Rabu (21/10/2026).
Melanjutkan Pengembangan Madu Kelulut Nyai Hapu
Pengembangan madu kelulut di Desa Tuwung telah melalui pendampingan sebelumnya. Pada 2024, kelompok usaha setempat mendapatkan pembinaan terkait branding, pengemasan, dan pemasaran digital yang menghasilkan identitas produk dengan merek “Madu Kelulut Nyai Hapu”.
Identitas tersebut menjadi modal bagi kelompok untuk memperkenalkan produk kepada konsumen. Namun, keberlanjutan usaha tidak cukup hanya mengandalkan merek dan tampilan kemasan yang menarik. Pengelolaan keuangan, pencatatan transaksi, dan pengaturan persediaan juga perlu diperkuat.
Pelaku usaha perlu mengetahui biaya produksi, jumlah stok, serta pendapatan yang diperoleh dari penjualan. Pencatatan yang tertata membantu kelompok menilai keuntungan secara lebih akurat sekaligus menentukan langkah pengembangan usaha.
Ketika jumlah pesanan meningkat, pembagian tugas dan sistem pengelolaan yang jelas juga menjadi kebutuhan. Dengan demikian, proses produksi, pengemasan, hingga penjualan dapat berjalan lebih teratur.
Karena itu, program PkM UPR kali ini melanjutkan pendampingan sebelumnya dengan penekanan pada penerapan manajemen usaha dan pemasaran yang dapat dipraktikkan anggota KUPS dalam kegiatan sehari-hari.
Pembukuan Sederhana Menjadi Dasar Pengelolaan Usaha
Salah satu materi utama pelatihan adalah pembukuan sederhana dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Materi ini diberikan untuk membantu peserta memahami biaya yang dikeluarkan dalam menghasilkan serta memasarkan madu kelulut.
Penerimaan dari penjualan tidak seluruhnya dapat dihitung sebagai keuntungan. Pelaku usaha perlu memperhitungkan berbagai komponen biaya, seperti proses produksi, botol, label, operasional, dan pemasaran.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada cara mencatat uang masuk dan keluar, mengidentifikasi komponen biaya, serta menghitung HPP sebagai dasar penentuan harga jual. Pemahaman ini diharapkan membantu kelompok mengambil keputusan usaha berdasarkan perhitungan yang lebih tepat.
Sebagai gambaran, apabila satu botol madu dijual seharga Rp100.000, kelompok perlu mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan dan menjual produk tersebut. Selisih antara harga jual dan keseluruhan biaya menjadi salah satu dasar untuk menilai keuntungan usaha.
Selain pengelolaan keuangan, peserta memperoleh penguatan mengenai manajemen kelompok, termasuk pembagian tanggung jawab, pencatatan stok, dan pendataan hasil penjualan. Langkah ini penting untuk menjaga keteraturan usaha sekaligus memudahkan evaluasi perkembangan bisnis.
Kemasan dan Pemasaran Digital Perlu Berjalan Bersama
Selain manajemen keuangan, pelatihan juga menyoroti pentingnya pengemasan dan pemasaran untuk memperluas pasar madu kelulut Desa Tuwung. Selama ini, pemasaran produk masyarakat kerap mengandalkan jaringan pembeli yang sudah dikenal serta promosi dari mulut ke mulut.
Cara tersebut tetap bermanfaat, tetapi perlu dilengkapi dengan saluran pemasaran lain agar produk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Karena itu, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan media sosial, WhatsApp Business, katalog produk digital, serta penyusunan konten promosi yang informatif.
Pelatihan turut dilengkapi praktik pengemasan dan pemasaran digital. Peserta diarahkan memahami pentingnya tampilan produk, konsistensi identitas merek, dan informasi yang perlu dicantumkan pada label kemasan.
Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai wadah madu, tetapi juga membantu konsumen mengenali produk dan memperoleh informasi yang dibutuhkan. Tampilan yang konsisten dapat memperkuat identitas “Madu Kelulut Nyai Hapu” di tengah persaingan dengan produk sejenis.
Di sisi lain, pemasaran digital membuka peluang bagi kelompok untuk menjangkau pembeli di luar desa. Melalui katalog dan komunikasi yang lebih tertata, calon konsumen dapat memperoleh informasi produk serta melakukan pemesanan dengan lebih mudah.
Namun, promosi digital perlu diimbangi kesiapan pengelolaan usaha. Peningkatan pesanan harus didukung ketersediaan produk, pencatatan transaksi, pengaturan stok, serta pelayanan konsumen yang konsisten.
Melalui kegiatan ini, UPR berupaya membantu KUPS Madu Kelulut Desa Tuwung mengembangkan usaha secara lebih terstruktur. Penguatan manajemen, pembukuan, kemasan, dan pemasaran digital diharapkan menjadi bekal bagi kelompok untuk meningkatkan daya saing produk sekaligus memperluas peluang pendapatan masyarakat dari hasil hutan.
Dengan pengelolaan yang semakin baik, madu kelulut “Nyai Hapu” diharapkan tidak hanya dikenal sebagai produk lokal, tetapi juga mampu berkembang menjadi usaha masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.(sct)



















