PALANGKARAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat terjadi inflasi secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,54 persen pada Maret 2026. Hal ini dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan momentum Hari Raya Idulfitri.
Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Tengah yang meningkat dari 110,91 pada Februari 2026 menjadi 111,51 pada Maret 2026.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti menyampaikan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan di daerah tersebut.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 0,46 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi month-to-month yaitu beras (0,15 persen), cabai rawit (0,07 persen), ikan nila (0,06 persen), bensin (0,05 persen) serta tomat (0,03 persen),” ujarnya, Selasa (01/04/2026).
Menurut Agnes, kenaikan harga komoditas tidak terlepas dari meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri serta terbatasnya pasokan, khususnya beras yang belum memasuki masa panen.
Secara tahunan (year-on-year), Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 3,86 persen, sementara secara tahun kalender (year-to-date) tercatat sebesar 1,39 persen.
Ia menjelaskan bahwa secara year-on-year, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi dengan andil sebesar 1,91 persen.
“Secara year-on-year, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 1,91 persen,”
“Komoditas yang memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi year-on-year antara lain emas perhiasan (0,76 persen), tarif listrik (0,60 persen), beras (0,41 persen), daging ayam ras (0,31 persen), dan ikan nila (0,15 persen),” jelasnya.
Agnes menambahkan, hasil pemantauan di empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen di Kalimantan Tengah pada Maret 2026 menunjukkan seluruh wilayah mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan.
Kondisi tersebut mencerminkan tekanan harga yang terjadi secara merata di wilayah pemantauan, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Fenomena Hari Raya Idulfitri menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan permintaan barang dan jasa, sehingga berdampak pada peningkatan harga sejumlah komoditas.
Selain itu, terbatasnya stok beras akibat belum memasuki masa panen turut memberikan tekanan terhadap inflasi, khususnya pada kelompok bahan pangan.
Dengan kondisi tersebut, pengendalian inflasi menjadi penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi daerah.
“Seluruh kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah tercatat mengalami inflasi baik secara month-to-month maupun year-on-year pada Maret 2026,” tandas Agnes.(sct)
















