PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Tengah mendorong mahasiswa baru Universitas Palangka Raya (UPR) mengenal investasi sejak dini melalui Sekolah Pasar Modal yang dirangkaikan dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPR.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Road to Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026. Selain memperkuat literasi pasar modal, kegiatan diarahkan untuk memperluas inklusi melalui pembentukan Single Investor Identification (SID) baru di Kalimantan Tengah.
Pertumbuhan investor pasar modal di Kalimantan Tengah menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Jumlah investor meningkat dari 167.839 investor pada Januari menjadi 252.709 investor pada Juni 2026.
Kota Palangka Raya menjadi salah satu kontributor utama dengan 30.766 investor atau sekitar 12,17 persen dari total investor Kalimantan Tengah. Jumlah tersebut menempatkan Palangka Raya pada posisi kedua setelah Kabupaten Kapuas.
Namun, peningkatan jumlah investor tersebut masih perlu diimbangi dengan penguatan pemahaman mengenai investasi. Nilai transaksi saham tercatat bergerak dinamis, dari Rp2,05 triliun pada Januari menjadi Rp1,2 triliun pada Juni 2026.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Manajer Bidang Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen, Ika Budhi Pratiwi mengatakan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan investasi perlu dibangun sejak usia muda.
“Generasi muda perlu membekali diri dengan kemampuan mengelola keuangan dan merencanakan masa depan, termasuk memahami investasi yang sesuai dengan profil risiko. Di tengah semakin maraknya penawaran keuangan digital, kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal juga menjadi hal yang tidak kalah penting,” terang Ika, Senin (11/8/2026).
Menurutnya, pengenalan investasi kepada mahasiswa tidak cukup hanya dengan memperkenalkan instrumen dan potensi keuntungan. Mahasiswa juga perlu memahami risiko serta memastikan setiap pilihan investasi dilakukan melalui instrumen dan penyelenggara yang legal dan diawasi.
Edukasi tersebut menjadi semakin penting seiring berkembangnya berbagai penawaran keuangan digital.
Pemahaman yang memadai diharapkan membantu generasi muda membedakan investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko dari penawaran keuangan ilegal.
Dalam kegiatan tersebut, edukasi pasar modal dan pengenalan berbagai instrumen investasi disampaikan Deputi Kepala BEI Kalimantan Tengah, Randy Perdana.
Materi diberikan sebagai bekal awal bagi mahasiswa untuk memahami karakteristik pasar modal dan pilihan investasi yang tersedia.
Kegiatan juga menghadirkan perwakilan perusahaan sekuritas yang memperkenalkan aplikasi online trading kepada mahasiswa.
Peserta memperoleh pemahaman mengenai penggunaan platform perdagangan sekaligus dasar-dasar analisis saham sebagai pengetahuan awal sebelum mengambil keputusan investasi.
Sesi edukasi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme melalui berbagai pertanyaan, terutama mengenai strategi investasi bagi pemula, pengelolaan risiko, serta cara mengenali penawaran investasi ilegal.
Melalui Road to SEPMT 2026, OJK dan BEI Kalimantan Tengah berupaya memperkuat literasi sekaligus membuka akses investasi bagi generasi muda. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada pasar modal, tetapi juga diarahkan untuk memahami pentingnya mengambil keputusan keuangan secara bijak.
Peningkatan jumlah investor di Kalimantan Tengah diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pemahaman masyarakat.
Dengan demikian, pertumbuhan basis investor tidak hanya tercermin dari bertambahnya jumlah SID, tetapi juga dari perilaku investasi yang semakin rasional, terukur, dan sesuai profil risiko.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan generasi muda yang memiliki kecakapan mengelola keuangan. Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan instrumen investasi legal dan diawasi sebagai salah satu bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
“Melalui edukasi yang berkelanjutan, generasi muda diharapkan tidak hanya semakin mengenal pasar modal, tetapi juga mampu mengelola keuangan dengan bijak, memahami risiko investasi, serta terhindar dari aktivitas keuangan ilegal,” tutup Ika.(sct)















