PALANGKARAYA – Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 0,38 persen secara month-to-month (m-to-m) pada Januari 2026, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah dari hasil pemantauan di empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK).
Statistik Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Taufiqurrahman menjelaskan bahwa IHK Kalteng meningkat dari 109,98 pada Desember 2025 menjadi 110,40 pada Januari 2026, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 0,30 persen,”
“Komoditas utama penyumbang inflasi month-to-month yaitu daging ayam ras 0,20 persen, emas perhiasan 0,14 persen, ikan gabus dan ikan nila 0,07 persen, serta beras 0,05 persen,” ujar Taufiqurrahman, Senin (02/02/2026).
Ia menambahkan, secara year-on-year (y-on-y) Kalimantan Tengah tercatat mengalami inflasi sebesar 4,09 persen, sementara secara year-to-date (y-to-d) inflasi berada di angka 0,38 persen.
Untuk inflasi tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil terbesar, yakni 1,64 persen.
“Komoditas yang memberikan andil signifikan terhadap inflasi year-on-year antara lain tarif listrik 1,53 persen, emas perhiasan 0,79 persen, beras 0,25 persen, sigaret kretek mesin 0,15 persen, dan bawang merah 0,09 persen,” jelasnya menambahkan.
Taufiqurrahman juga menyampaikan bahwa seluruh kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan pada Januari 2026, dengan daging ayam ras menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi m-to-m di seluruh wilayah pemantauan.
“Fenomena yang memengaruhi inflasi Januari 2026 antara lain berkurangnya persediaan daging ayam ras karena belum siap panen atau potong, kenaikan harga emas dunia, serta menurunnya pasokan ikan budidaya maupun tangkap di pasar,” tandasnya.(sct)














