PALANGKARAYA – Nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$558,03 juta atau mengalami penurunan 6,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, meski neraca perdagangan tetap mencatat surplus signifikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti menyampaikan bahwa penurunan ekspor tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya kinerja sektor pertambangan yang menjadi kontributor utama ekspor daerah.
“Komoditas utama ekspor adalah batu bara, minyak kelapa sawit, kayu olahan, lignit, karet remah, kayu lapis, bijih zirconium, niobium, dan tantalum, serta bungkil dan residu. Sedangkan impor didominasi oleh komoditas aspal, ketel uap, mesin pencampur”,
“bangunan prefabrikasi lain, mesin lainnya, mesin pemisah, dan mesin ekstraksi. Jepang, India, dan Korea Selatan masih menjadi negara tujuan utama ekspor, sementara Singapura, Malaysia dan Tiongkok menjadi negara pemasok impor utama,” jelas Agnes belum lama ini.
Secara rinci, penurunan terbesar terjadi pada ekspor hasil pertambangan yang tercatat turun sebesar 15,42 persen, sehingga mempengaruhi total nilai ekspor Kalimantan Tengah pada awal tahun ini.
Di sisi lain, nilai impor Kalimantan Tengah pada periode Januari–Februari 2026 juga mengalami penurunan sebesar 19,04 persen menjadi US$4,72 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan impor tertinggi terjadi pada sektor industri pengolahan yang turun sebesar 22,67 persen, yang mencerminkan adanya penyesuaian aktivitas industri terhadap kondisi ekonomi dan kebutuhan produksi.
Meskipun terjadi penurunan baik pada ekspor maupun impor, neraca perdagangan Kalimantan Tengah tetap menunjukkan kinerja positif dengan surplus sebesar US$553,31 juta.
Surplus tersebut didorong oleh nilai ekspor yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan impor, sehingga memberikan kontribusi terhadap stabilitas perekonomian daerah.
Agnes menjelaskan bahwa komoditas ekspor Kalimantan Tengah masih didominasi oleh sektor sumber daya alam, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit, yang memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah.
Sementara itu, komoditas impor lebih banyak berasal dari sektor barang modal dan bahan pendukung industri, seperti mesin dan peralatan, yang digunakan untuk menunjang aktivitas produksi.
Ia menambahkan, negara tujuan utama ekspor Kalimantan Tengah masih didominasi oleh Jepang, India, dan Korea Selatan, yang menjadi pasar utama bagi komoditas unggulan daerah.
Sedangkan untuk impor, negara pemasok utama berasal dari Singapura, Malaysia, dan Tiongkok, yang menyediakan berbagai kebutuhan industri dan infrastruktur.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi fluktuasi pada nilai perdagangan, struktur perdagangan Kalimantan Tengah masih relatif stabil dengan ketergantungan pada sektor komoditas unggulan.
“Ke depan, perlu adanya upaya diversifikasi ekspor agar ketergantungan pada komoditas tertentu dapat dikurangi dan ketahanan ekonomi daerah semakin kuat,” tandas Agnes.(*)

















