PALANGKARAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah Kalteng. Salah satu upaya yang dilakukan ialah memperbaiki dan mengoptimalkan sumur bor di sejumlah titik untuk mendukung ketersediaan sumber air dalam menghadapi kebakaran.
Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran didampingi Wakil Gubernur Kalteng H. Edy Pratowo beserta jajaran menyampaikan, sejumlah sumur bor yang sebelumnya dibuat mengalami kendala karena tidak dapat mengeluarkan air atau tertutup.
Menurut Agustiar, pembuatan sumur bor pada dasarnya tidak membutuhkan waktu lama. Dalam kondisi tertentu, sumber air dapat ditemukan dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam setelah proses pengeboran dilakukan.
“Sumur bor yang dibuat sebelumnya ada yang tidak bisa mengeluarkan air atau tertutup. Kebetulan membuat sumur bor tidak membutuhkan waktu yang lama, sekitar dua sampai tiga jam sudah ketemu sumber air. Karena itu, sumur bor yang tertutup atau tidak mengeluarkan air terus kami upayakan untuk diperbaiki agar dapat dimanfaatkan dalam penanganan karhutla,” kata Agustiar, Senin (31/08/2026).
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga terus melakukan koordinasi dengan lembaga terkait serta seluruh elemen masyarakat. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperkuat penanganan sekaligus memperbaiki sarana pendukung yang mengalami kendala di lapangan.
Agustiar mengatakan perbaikan sumur bor menjadi salah satu bagian dari upaya menghadapi kondisi wilayah Kalteng yang luas dan memiliki hamparan lahan gambut yang cukup besar. Kondisi geografis tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan dukungan dari berbagai pihak.
“Kita terus melakukan koordinasi bersama lembaga terkait beserta seluruh elemen masyarakat untuk melakukan perbaikan sumur bor yang tertutup atau tidak mengeluarkan air. Kami menyadari wilayah Kalimantan Tengah sangat luas dan memiliki lahan gambut yang luas, sehingga upaya tersebut tentunya tidak mudah. Hal ini membutuhkan dukungan seluruh masyarakat yang ada,” ujarnya.
Menurut Agustiar, ketersediaan sumber air menjadi bagian penting dalam mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sumur bor yang dapat berfungsi dengan baik diharapkan membantu menyediakan sumber air pada lokasi yang membutuhkan penanganan ketika terjadi kebakaran.
Selain memperkuat sarana penanganan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga menyoroti faktor manusia dalam terjadinya karhutla. Agustiar menyebut sebagian kebakaran hutan dan lahan terjadi akibat ulah manusia sehingga pencegahan juga harus menjadi perhatian bersama.
Ia menyinggung kejadian di Kabupaten Pulang Pisau yang melibatkan dua orang yang diduga melakukan pembakaran lahan. Kasus tersebut telah ditangani oleh pihak berwajib.
Agustiar mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan. Menurutnya, menjaga lingkungan dari potensi kebakaran merupakan tanggung jawab bersama, terlebih ketika kondisi wilayah menghadapi ancaman karhutla.
“Kita sama-sama menjaga lingkungan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena luasnya wilayah Kalimantan Tengah membutuhkan kepedulian dan dukungan seluruh masyarakat,” tegasnya.
Mulai 31 Agustus 2026, Kalimantan Tengah memasuki fase tanggap darurat. Kondisi tersebut menjadi bagian dari langkah penanganan karhutla yang membutuhkan kesiapsiagaan pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat.
Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, pemerintah berharap upaya penanganan dan pencegahan karhutla dapat berjalan lebih optimal. Kesiapan sumber air melalui sumur bor, koordinasi lintas lembaga, serta kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kebakaran.
“Kita sama-sama menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Dengan koordinasi, kesiapan sarana, serta dukungan seluruh masyarakat, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dapat dilakukan bersama-sama agar dampaknya tidak semakin meluas,” tandas Agustiar.(sct)



















