UPR Perkuat Pemantauan Kebakaran Gambut dengan Teknologi Drone Thermal

AKADEMIKA63 Dilihat

PALANGKARAYA – Universitas Palangka Raya (UPR) memperkuat pemantauan kebakaran gambut dengan memanfaatkan drone thermal hasil kerja sama bersama Borneo Nature Foundation (BNF). Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi sumber panas yang masih bertahan di bawah permukaan setelah api terlihat padam.

Kebakaran gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan mineral. Api tidak hanya membakar vegetasi dan permukaan lahan, tetapi dapat membara serta merambat perlahan di dalam lapisan gambut. Kondisi tersebut membuat api yang terlihat telah padam belum tentu menandakan kebakaran benar-benar berakhir.

Pemanfaatan drone thermal dilakukan untuk memetakan anomali suhu yang berpotensi menunjukkan keberadaan titik panas atau bara yang perlu segera diverifikasi dan ditangani di lapangan.

Melalui kamera thermal, tim memperoleh gambaran sebaran suhu dari udara sehingga area dengan anomali panas dapat diidentifikasi lebih cepat dibandingkan hanya mengandalkan pengamatan visual.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari penguatan pemantauan pada tahap pemadaman lanjutan dan verifikasi pascakebakaran. Drone thermal digunakan untuk pemindaian udara, identifikasi anomali suhu, penentuan lokasi prioritas pemeriksaan, serta pemantauan ulang setelah proses pendinginan dan pemadaman dilakukan.

Namun, teknologi tersebut tidak menggantikan pemeriksaan langsung di lapangan. Data thermal menjadi petunjuk awal untuk mempersempit lokasi yang harus diverifikasi sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat, terarah, dan efisien.

Simon Husson, Head of the Board of Trustees atau Ketua Pembina Yayasan Borneo Nature Indonesia sekaligus CEO Borneo Nature Foundation International, menilai kolaborasi antara lembaga konservasi, perguruan tinggi, dan peneliti penting dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menghadapi kebakaran gambut.

“Teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata di lapangan. Dalam menghadapi kebakaran gambut, kemampuan mendeteksi sumber panas secara lebih cepat akan membantu tim menentukan lokasi yang perlu diperiksa dan ditangani. Namun, teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dipadukan dengan pengetahuan ilmiah, pengalaman lapangan dan kolaborasi yang kuat,” ujar Husson.

Ia menilai kerja sama BNF dengan UPR melalui UPA Pengelolaan Lahan Gambut atau CIMTROP memiliki nilai strategis karena mempertemukan kapasitas penelitian, penguasaan ekosistem gambut, dan inovasi teknologi dalam satu kerangka kerja.

Baca Juga  UPR Terima Bantuan Tanggap Bencana dari BRI

Menurutnya, pengembangan teknologi thermal penting karena asap, tutupan vegetasi, dan kondisi medan kerap menyulitkan pemantauan kebakaran melalui pengamatan visual.

“Kolaborasi seperti ini bukan hanya tentang sebuah perangkat drone. Yang lebih penting adalah bagaimana data dan pengetahuan yang dihasilkan dapat digunakan untuk melindungi ekosistem gambut, mendukung masyarakat, dan memperkuat upaya pencegahan kebakaran di masa depan,” lanjutnya.

CEO Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI/BNF Indonesia), Anton Nurcahyo mengatakan kerja sama penggunaan drone thermal bersama UPR melalui CIMTROP penting untuk memperkuat kemampuan pemantauan kebakaran gambut secara cepat dan berbasis data.

Kolaborasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan perangkat, tetapi juga pengembangan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan penerapan teknologi sesuai kebutuhan lapangan.

“Kerja sama penggunaan drone thermal ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat langsung mendukung kebutuhan penanganan kebakaran gambut. Informasi thermal dari udara membantu tim menentukan area yang perlu segera diperiksa, sementara tindakan di lapangan tetap dilakukan berdasarkan verifikasi kondisi sebenarny,”

“Bagi BNF Indonesia, kolaborasi dengan UPR dan CIMTROP penting untuk menggabungkan teknologi, pengetahuan gambut, dan pengalaman lapangan agar respons terhadap kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujar Anton.

Menurut Anton, pengalaman bersama dalam penggunaan drone thermal juga dapat menjadi dasar untuk mengembangkan protokol pemantauan, pelatihan operator, serta pemanfaatan data thermal secara lebih luas untuk pencegahan, pemadaman lanjutan, dan evaluasi pascakebakaran.

Sementara itu, UPR melalui UPA Pengelolaan Lahan Gambut–CIMTROP di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si., IPU., ASEAN Eng., berperan mengintegrasikan teknologi dengan pengetahuan ilmiah dan kondisi nyata ekosistem gambut. CIMTROP bekerja pada irisan riset gambut, hidrologi, kondisi tanah, lingkungan, teknologi pemantauan, dan kebutuhan penanganan di lapangan.

Dr. Adi Jaya menegaskan data yang diperoleh dari drone thermal harus dibaca berdasarkan konteks kondisi gambut. Anomali suhu tidak serta-merta berarti kebakaran sehingga tetap diperlukan verifikasi lapangan dan pemahaman terhadap faktor lingkungan yang memengaruhi pola temperatur.

Baca Juga  UPR Alihkan Perkuliahan Daring Akibat Kabut Asap Karhutla

“Drone thermal adalah instrumen teknologi. Namun, data yang dihasilkan harus dibaca dalam konteks kondisi gambut, hidrologi, kelembapan, vegetasi, dan faktor lingkungan lainnya. Di situlah pentingnya kepakaran dan penelitian,” ujar Dr. Adi Jaya.

Ia menjelaskan deteksi dari udara perlu dilengkapi dengan deteksi langsung di permukaan menggunakan sensor termal. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memeriksa titik yang teridentifikasi sebagai anomali panas dan memastikan apakah masih terdapat sumber panas atau api setelah proses pemadaman.

“Drone thermal membantu kita melihat pola dan anomali panas dari udara, sedangkan sensor termal di darat digunakan untuk memastikan kondisi pada titik yang dicurigai,”

“UPA Pengelolaan Lahan Gambut telah menggunakan sensor termal dalam penelitian penggunaan Shabondama, terutama untuk mendeteksi sisa api dan panas setelah pemadaman. Informasi ini penting untuk menentukan apakah lokasi sudah benar-benar aman atau masih memerlukan pendinginan lanjutan,” ujar Dr. Adi Jaya.

Kombinasi pemetaan udara menggunakan drone thermal dan pemeriksaan darat dengan sensor termal membentuk sistem verifikasi berlapis. Tim dapat menilai efektivitas pemadaman, memprioritaskan titik yang membutuhkan mop up, serta melakukan pemantauan ulang untuk mengurangi risiko api kembali menyala.

Bagi UPR, CIMTROP tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai dapur riset gambut yang menghubungkan data, analisis ilmiah, dan kebutuhan operasional di lapangan. Pemanfaatan drone thermal menjadi bagian dari arah pengembangan penanganan kebakaran gambut yang semakin berbasis deteksi dini, data, dan pencegahan.

Hasil pemetaan thermal dapat menjadi bagian dari basis data spasial yang dipadukan dengan informasi kondisi lahan, hidrologi, kelembapan, dan riwayat kebakaran. Dalam jangka panjang, integrasi data tersebut dapat membantu membangun sistem pemantauan yang lebih cepat dalam mengenali lokasi berisiko.

Rektor UPR Prof. Dr. Salampak Dohong, MS., IPU., ASEAN Eng  yang juga pakar gambut Indonesia, menegaskan penguatan teknologi pemantauan merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjawab persoalan lingkungan secara nyata.

Baca Juga  UPR Terima Bantuan Tanggap Bencana dari BRI

“Kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik khusus. Api dapat tidak terlihat, tetapi proses pembakaran masih berlangsung di bawah permukaan. Karena itu, kita membutuhkan teknologi yang mampu membantu melihat apa yang tidak dapat kita lihat secara langsung,” ujarnya Prof. Salampak,

Menurut Prof. Salampak, UPR memiliki posisi strategis karena selain menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, kampus juga memiliki kawasan dan laboratorium lapangan yang memungkinkan pengembangan teknologi dilakukan secara langsung dalam konteks ekosistem gambut tropis.

“UPR tidak hanya berkepentingan melindungi kawasan kampus. Pengetahuan dan teknologi yang kita kembangkan harus dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan pengelolaan gambut di Kalimantan,” katanya menambahkan.

Penggunaan drone thermal hasil kerja sama UPR dan BNF pada akhirnya tidak semata-mata berkaitan dengan perangkat teknologi. Hal yang lebih penting adalah menerjemahkan teknologi tersebut menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Ketika kebakaran permukaan telah dipadamkan, pemantauan tetap harus dilanjutkan untuk memastikan tidak ada sumber panas yang tersisa.

Anomali yang ditemukan perlu diverifikasi, ditangani, dan kembali dipantau. Siklus deteksi, verifikasi, pemadaman, dan pemantauan ulang menjadi pendekatan penting untuk memastikan kebakaran benar-benar terkendali.

Kolaborasi UPR dan BNF menunjukkan bahwa penanganan kebakaran gambut tidak cukup hanya dilakukan dengan memadamkan api ketika kebakaran telah membesar. Diperlukan riset, teknologi, data, pemahaman ekosistem, dan kerja lapangan yang terintegrasi.

“Kita harus mampu mendeteksi lebih cepat, memahami lebih baik, dan bertindak sebelum api kembali membesar,” tutupnya.(sct)

+ posts