Karhutla Gambut UPR Dipadamkan, Tim Tetap Siaga Pantau Api

AKADEMIKA, HEADLINE67 Dilihat

PALANGKARAYA – Di tengah kondisi kemarau panjang dan kekeringan lahan gambut. Belum lama ini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan aset lahan Universitas Palangka Raya (UPR).

Tim Tanggap Darurat UPR bergerak cepat melakukan pemadaman sejak titik api terdeteksi untuk mencegah api meluas ke kawasan strategis kampus.

Kepala UPA Pengelola Lahan Gambut sekaligus Koordinator Lapangan Tim Penanggulangan Kebakaran Lahan UPR, Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si., Ph.D mengatakan kondisi lahan gambut yang kering meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.

Penanganan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi untuk mengendalikan api yang sempat mendekati Gedung Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) serta Gedung Merah Putih.

“Fenomena iklim global El Niño 2026 dan musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Tengah telah menyebabkan penurunan drastis kelembapan tanah serta kekeringan ekstrem pada area lahan gambut,”

“Kondisi cuaca yang rentan tersebut memicu terjadinya insiden karhutla di kawasan aset lahan UPR, Kampus Yos Sudarso. Tim Tanggap Darurat UPR langsung bergerak sejak deteksi awal kemunculan api dan melakukan pemadaman di lapangan,” kata Adi Jaya.

Menurut Adi Jaya, respons lapangan kemudian diperkuat melalui konsolidasi formal untuk memastikan manajemen penanganan, kebutuhan logistik, serta strategi pencegahan lanjutan dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.

UPR mengerahkan tim gabungan terpadu dalam operasi tanggap darurat tersebut. Tim gabungan terdiri atas Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengelolaan Lahan Gambut, Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG), Peat Techno Park (PTP), Tim Urusan Barang Milik Negara dan Rumah Tangga (BMN-RT), serta relawan tanggap bencana dari unsur sivitas akademika Universitas Palangka Raya.

Kerja terpadu tim di lapangan berhasil mengendalikan dan memadamkan titik api yang sempat mendekati kawasan strategis di sekitar Gedung PPIIG dan Gedung Merah Putih.

Namun, pemadaman api permukaan tidak langsung mengakhiri kewaspadaan karena karakteristik lahan gambut memungkinkan api bertahan di bawah permukaan.

“Meskipun api permukaan telah padam, tim tanggap darurat tetap bersiaga dan melakukan pemantauan serta pembasahan berkala atau cooling down secara intensif selama 24 jam,”

“Lahan gambut yang kering masih menyimpan potensi kebakaran bawah tanah atau smoldering yang dapat memunculkan titik api baru sewaktu-waktu, terutama akibat embusan angin kencang dan suhu tinggi,” ujarnya menambahkan.

Untuk melindungi sivitas akademika dari paparan kabut asap, Rektor UPR Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU., ASEAN Eng menetapkan sejumlah penyesuaian operasional kampus dengan memperhatikan data kualitas udara BMKG.

Perkuliahan tatap muka dimulai paling awal pukul 08.00 WIB untuk seluruh jenjang pendidikan, dengan durasi perkuliahan diperpendek serta dilakukan penyesuaian terhadap kegiatan praktikum dan laboratorium.

Selain itu, seluruh aktivitas tatap muka di Gedung Kuliah Terpadu Merah Putih A dan B ditiadakan sejak 19 hingga 28 Agustus 2026.

Kegiatan perkuliahan dialihkan ke metode daring atau dipindahkan ke ruang kuliah fakultas yang dinilai aman.

UPR juga membatasi aktivitas akademik, kemahasiswaan, dan organisasi mahasiswa di luar ruangan seminimal mungkin atau menjadwalkannya kembali.

Seluruh sivitas akademika diwajibkan menggunakan masker selama berada di area kampus. Apabila parameter kualitas udara memburuk, UPR menyiapkan opsi penerapan pembelajaran daring secara penuh.

Rektor UPR juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh personel tim tanggap darurat, dosen, tenaga kependidikan, relawan mahasiswa, petugas keamanan kampus, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, jajaran bank mitra UPR, serta masyarakat yang turut mendukung pemadaman dan pengamanan kawasan kampus dari ancaman karhutla.

Sebagai tindak lanjut koordinasi pimpinan, UPR memperkuat protokol kesiapsiagaan kampus melalui patroli rutin dan pemantauan titik panas di seluruh hamparan lahan milik UPR, terutama zona gambut yang rentan.

Kampus juga menyiapkan suplai air, tandon penampungan, serta pompa jinjing pemadam di sejumlah titik krusial di lingkar kampus.

“Penanganan karhutla membutuhkan kesiapsiagaan yang berkelanjutan karena kondisi lahan gambut dapat menyimpan bara di bawah permukaan meskipun api terlihat sudah padam,”

“Karena itu, pemantauan, pembasahan, kesiapan infrastruktur, dan koordinasi lintas unit maupun dengan instansi pemadam harus terus diperkuat agar kawasan kampus tetap aman dari ancaman kebakaran,” tandas Adi.(sct)

Gambar Gravatar
+ posts