BEM dan Ormawa FISIP UPR Turun Padamkan Karhutla di Kawasan Kampus

AKADEMIKA90 Dilihat

PALANGKARAYA – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bersama gabungan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya (FISIP UPR) turun langsung membantu pemadaman kebakaran lahan gambut di kawasan kampus, Jumat (21/8/2026).

Aksi tersebut dilakukan setelah kebakaran lahan yang terjadi di kawasan Universitas Palangka Raya (UPR) memasuki hari ketiga.

Titik api yang bermula dari kawasan Gedung PPIIG UPR mulai merembet ke sekitar wilayah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), FISIP, hingga Studio Lama UPR.

Dengan peralatan yang tersedia, para mahasiswa yang bergerak sebagai relawan pemadam bersama berupaya melokalisasi titik api agar kebakaran tidak semakin meluas ke fasilitas kampus maupun permukiman warga di sekitar kawasan tersebut.

Di tengah kepulan asap dan hawa panas, para relawan mahasiswa bekerja secara bersama-sama melakukan pemadaman.

Kondisi lahan gambut yang mudah menyimpan bara membuat proses penanganan membutuhkan kewaspadaan dan upaya berulang.

Dekan FISIP UPR, Prof. Dr. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D mengapresiasi kepedulian dan inisiatif BEM serta seluruh Ormawa FISIP UPR yang turut membantu penanganan kebakaran lahan.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus kepekaan terhadap kondisi masyarakat sekitar.

“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah menjaga ketenangan, keselamatan, dan semangat gotong royong,”

“Setiap aksi di lapangan harus tetap mengutamakan keselamatan dan dilakukan secara terkoordinasi dengan tim yang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam penanganan karhutla,” ujar Prof. Bhayu.

Ia menilai kepedulian mahasiswa dalam kondisi tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda.

Pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga perlu menumbuhkan kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan sesaat.

Kondisi tersebut perlu menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran.

“Mahasiswa adalah bagian penting dari masyarakat. Kehadiran mereka di tengah situasi sulit seperti ini hendaknya menjadi energi positif bagi semua pihak,”

“Mari kita jaga semangat solidaritas, saling membantu, dan bersama-sama mencari solusi agar persoalan karhutla dapat ditangani dengan baik serta tidak terus berulang,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur BEM FISIP UPR, Yosafat mengatakan mahasiswa bersama relawan dari sejumlah fakultas telah bergerak dan siaga selama tiga hari terakhir untuk membantu penanganan kebakaran di kawasan kampus.

Menurutnya, karakter lahan gambut membuat api tidak mudah dipadamkan. Bara dapat bertahan di dalam lapisan tanah sehingga diperlukan kesiagaan, kesabaran, serta upaya berulang untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.

“Melihat kondisi tersebut, kami dari BEM FISIP UPR bersama beberapa Ormawa FISIP lainnya tergerak untuk ikut turun langsung membantu memadamkan api dengan daya dan upaya yang kami miliki. Apalagi saat ini api sudah mulai merembet ke kawasan lingkungan UPR,” tutur Yosafat.

Ia berharap kebakaran tersebut dapat segera dikendalikan sehingga tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.

Menurutnya, kondisi kawasan UPR yang berada di wilayah dengan hamparan lahan gambut cukup luas membutuhkan perhatian dan penanganan serius.

Keterlibatan mahasiswa dalam penanganan kebakaran juga menjadi bentuk solidaritas di lingkungan kampus.

Mereka membantu sesuai kemampuan dan berkoordinasi dengan tim lain yang telah berada di lapangan dalam menghadapi kondisi kebakaran lahan.

Hingga Jumat petang, para relawan mahasiswa bersama petugas gabungan masih melakukan pendinginan atau mopping up.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala akibat hembusan angin.

Penanganan secara berkelanjutan diperlukan mengingat kebakaran di lahan gambut dapat kembali muncul meski api permukaan telah berhasil dipadamkan.

Karena itu, pemantauan dan pendinginan menjadi bagian penting dalam memastikan titik api benar-benar terkendali.

“Karhutla di kawasan UPR membutuhkan kesiapsiagaan dan kerja bersama agar api tidak kembali menyala dan meluas. Kami berharap upaya seluruh relawan dan petugas dapat segera mengendalikan kondisi ini,” tutupnya.(sct)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *