PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat kinerja Bank Umum menunjukkan pertumbuhan positif hingga November 2025.
Hal tersebut terlihat dari indikator Aset Bank Umum yang tercatat meningkat sebesar 20,76 persen secara year-on-year (yoy) atau naik Rp17,75 triliun, dari Rp85,48 triliun pada November 2024 menjadi Rp103,23 triliun.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan kinerja intermediasi perbankan yang tetap solid di tengah dinamika perekonomian.
“Pertumbuhan aset ini menunjukkan perbankan di Kalimantan Tengah masih mampu menjaga momentum ekspansi usaha secara sehat dan berkelanjutan,” ujarnya belum lama ini.
Selain aset, indikator Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. DPK tumbuh 23,32 persen yoy atau meningkat Rp10,81 triliun, dari Rp46,33 triliun menjadi Rp57,14 triliun.
Sementara itu, penyaluran kredit atau pembiayaan tumbuh 9,03 persen yoy atau naik Rp4,51 triliun, dari Rp49,89 triliun menjadi Rp54,40 triliun.
Primandanu juga menjelaskan bahwa seiring pertumbuhan kredit tersebut, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat meningkat sebesar 0,53 persen, dari 1,63 persen menjadi 2,16 persen. Namun demikian, tingkat NPL tersebut masih berada pada level yang aman dan terjaga.
“Meskipun terdapat peningkatan NPL, namun secara umum masih berada di bawah ambang batas 5 persen, sehingga risiko perbankan tetap terkendali,” tegasnya.
Dari sisi penggunaan kredit, pada posisi November 2025 penyaluran kredit masih didominasi oleh kredit konsumtif yang mencapai Rp21,06 triliun atau 38,71 persen dari total kredit.
Selanjutnya, kredit modal kerja tercatat sebesar Rp19,51 triliun atau 35,86 persen, serta kredit investasi sebesar Rp13,83 triliun atau 25,42 persen dari total kredit.
Berdasarkan sektor ekonomi, lima sektor dengan pemanfaatan fasilitas kredit terbesar meliputi sektor rumah tangga sebesar Rp20,76 triliun atau 39,12 persen dari total kredit, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp16,50 triliun atau 31,09 persen, perdagangan besar dan eceran Rp10,01 triliun atau 18,86 persen, industri pengolahan Rp1,17 triliun atau 2,20 persen, serta sektor konstruksi Rp1,07 triliun atau 2,03 persen.
Primandanu lebih dalam menambahkan, berdasarkan jenis usaha, penyaluran kredit Bank Umum di Kalimantan Tengah masih didominasi oleh kredit non-UMKM yang mencapai Rp35,63 triliun atau 65,50 persen dari total kredit.
Sementara kredit UMKM terdiri dari kredit mikro sebesar Rp8,87 triliun atau 16,31 persen, kredit kecil Rp6,52 triliun atau 11,99 persen, dan kredit menengah Rp3,84 triliun atau 6,20 persen.
“Ke depan, OJK akan terus mendorong perbankan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan pengelolaan risiko, serta memperkuat peran intermediasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” pungkas Primandanu.(sct)


















