Warga Sababilah Harapkan Dukungan Pembangunan Fasilitas Keagamaan

PALANGKARAYA – Warga Desa Sababilah, Kabupaten Barito Selatan, meminta perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk mendukung peningkatan pembangunan di sektor keagamaan dan fasilitas umum di wilayah tersebut.

“Mereka meminta adanya bantuan dana dan dipantau proses pembangunannya agar dapat segera selesai sehingga jemaat dapat beribadah dengan baik,” ujar Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Ampera A.Y Mebas.

Ampera menjelaskan, permintaan itu datang dari Jemaat Kristen Protestan yang mengharapkan dukungan pembangunan Gedung GKE Sababilah serta Gedung Pastori untuk Resort GKE Malawen Raya.

Menurutnya, keberadaan sarana ibadah yang layak menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat agar kegiatan keagamaan dapat berlangsung dengan nyaman dan khidmat.

Ia menilai, aspirasi tersebut mencerminkan tingginya semangat masyarakat dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di lingkungan mereka.

Selain itu, Ampera juga menyampaikan adanya permintaan dari Jemaat Katolik yang mengharapkan bantuan dana untuk pembangunan Pastori Gereja Katolik di Desa Sababilah.

Kebutuhan fasilitas keagamaan yang memadai dinilai penting untuk mendukung aktivitas pelayanan serta pembinaan umat di wilayah tersebut.

Tidak hanya itu, masyarakat juga mengusulkan pembangunan Gedung Olahraga (GOR) sebagai sarana penunjang kegiatan sosial dan pengembangan potensi generasi muda.

“Masyarakat setempat juga meminta adanya pembangunan sarana Gedung Olah Raga (GOR) untuk masyarakat di Desa Sababilah,” ungkapnya.

Ampera menilai, keberadaan GOR akan memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas, berolahraga, serta memperkuat interaksi sosial di lingkungan desa.

Di sisi lain, dirinya juga menyoroti kondisi aula pertemuan SMK Negeri 2 Buntok yang dinilai sudah tidak layak digunakan namun masih dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sekolah.

Menurutnya, rehabilitasi gedung aula tersebut perlu segera dilakukan agar kegiatan belajar dan aktivitas sekolah dapat berjalan dengan baik dan aman.

“Sebenarnya sudah tidak layak digunakan, namun hanya aula ini yang tersedia dan sering digunakan sebagai tempat kegiatan guru dan para siswa,” tandas Ampera.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *