PALANGKARAYA – Kebutuhan sarana pencegahan kebakaran menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan warga Kelurahan Langkai, Kota Palangka Raya, dalam Reses Perseorangan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Faridawaty Darlan Atjeh.
Warga mengusulkan penyediaan sumur bor beserta mesin di sejumlah titik untuk memperkuat kesiapsiagaan lingkungan menghadapi kebakaran. Aspirasi tersebut disampaikan perwakilan warga dalam kegiatan reses yang berlangsung di Cafe 99, Jalan Adonis Samad Nomor 99, Kota Palangka Raya.
Selain kebutuhan sumur bor, warga juga menyampaikan kondisi anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Langkai yang selama ini turut membantu pemadaman kebakaran dengan menggunakan anggaran pribadi.
Jamalun, warga RT 01/RW 08 Kelurahan Langkai, menyampaikan bahwa wilayahnya belum memiliki sumur bor dan mesin yang dapat digunakan untuk mengantisipasi kebakaran.
Menurutnya, sarana tersebut dibutuhkan sedikitnya di tiga titik agar masyarakat memiliki dukungan sumber air ketika terjadi kebakaran.
“Untuk antisipasi kebakaran, kami belum memiliki sumur bor dan mesin sama sekali. Kami membutuhkan sarana tersebut di tiga titik agar ketika terjadi kebakaran, masyarakat memiliki sumber air yang dapat digunakan untuk membantu proses pemadaman,” kata Jamalun belum lama ini.
Ia juga menyampaikan persoalan jalan titian di belakang Aline Foto yang telah putus. Menurut Jamalun, usulan perbaikan akses tersebut sudah disampaikan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) selama sekitar 10 tahun, tetapi hingga kini belum mendapatkan bantuan.
“Jalan titian di belakang Aline Foto sudah putus. Usulan ini sudah kami sampaikan melalui musrenbang selama sekitar 10 tahun, tetapi belum pernah mendapatkan bantuan. Karena itu, kami berharap persoalan akses tersebut juga mendapat perhatian bersama dengan kebutuhan sarana pencegahan kebakaran,” ujarnya.
Kebutuhan sarana pencegahan kebakaran juga disampaikan Safi’i, Ketua RT 01/RW 13 Langkai yang mengusulkan pembangunan sumur bor sebanyak dua titik di Gang Buntu.
Sarana tersebut dinilai penting untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran di lingkungan permukiman.
“Di Gang Buntu kami meminta dibuatkan sumur bor sebanyak dua titik. Kebutuhan ini penting untuk mendukung kesiapsiagaan warga, terutama ketika terjadi kebakaran. Kami berharap usulan tersebut dapat menjadi perhatian dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme pembangunan daerah,” kata Safi’i.
Sementara itu, Ketua RT 05/RW 15 Jalan Perintis, Suprianto menyampaikan kondisi anggota MPA Kelurahan Langkai yang selama ini terlibat dalam pemadaman api.
“Anggota MPA Kelurahan Langkai setiap hari melakukan pemadaman api dengan menggunakan anggaran pribadi. Kami berharap ada dukungan terhadap anggota yang selama ini membantu menangani kebakaran, sehingga mereka tidak harus menanggung sendiri kebutuhan ketika menjalankan tugas pemadaman,” ujar Suprianto.
Selain persoalan sarana pemadaman, Suprianto juga menyampaikan usulan pengaspalan jalan kurang lebih 200 meter ke arah Masjid Perintis Permai.
Usulan tersebut menjadi bagian dari kebutuhan lingkungan yang disampaikan dalam kegiatan reses, bersamaan dengan aspirasi terkait kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Aspirasi mengenai sumur bor juga disampaikan Bambang, Ketua RW 17 Langkai, untuk kawasan Tugu Soekarno atau belakang PDAM. Ia mengusulkan sumur bor beserta mesin di sekitar dua titik.
Menurut data aspirasi yang disampaikan, sumur yang ada di kawasan tersebut telah berusia sekitar lima hingga enam tahun.
“Untuk kawasan Tugu Soekarno atau belakang PDAM, kami mengusulkan sumur bor dan mesin sekitar dua titik. Sumur yang ada sudah berusia sekitar lima sampai enam tahun. Kami berharap kebutuhan sarana air tersebut dapat diperhatikan karena berkaitan dengan kebutuhan warga dan kesiapsiagaan lingkungan,” kata Bambang.
Dalam kegiatan reses tersebut, kebutuhan sarana pencegahan kebakaran menjadi salah satu persoalan yang muncul dari beberapa wilayah di Kelurahan Langkai.
Usulan warga tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sumur bor, tetapi juga ketersediaan mesin dan dukungan terhadap masyarakat yang terlibat langsung dalam pemadaman api.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi kebakaran membutuhkan dukungan sarana yang tersedia di lingkungan sekaligus dukungan bagi warga yang terlibat dalam penanganan ketika terjadi kebakaran.
Aspirasi yang disampaikan melalui reses menjadi bagian dari penyampaian kebutuhan masyarakat kepada wakil rakyat agar dapat diperhatikan sesuai mekanisme dan kemampuan pembangunan daerah.
“Kami berharap kebutuhan sarana pencegahan kebakaran dapat menjadi perhatian, karena kesiapsiagaan bukan hanya soal menangani api ketika sudah terjadi, tetapi juga memastikan warga memiliki sarana yang memadai untuk menghadapi keadaan darurat sejak awal,” tandas Suprianto.(sct)











