TRC Mangkutup Jadi Laboratorium Alam Riset Lingkungan

FORESTRY7 Dilihat

KAPUAS – Training and Research Center (TRC) Mangkutup di kawasan lahan konservasi PT Industrial Forest Plantation (PT IFP) terus dikembangkan sebagai pusat penelitian dan pembelajaran berbasis konservasi yang melibatkan peneliti, akademisi, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset nasional maupun internasional.

Manager Estate PT IFP Yoksan Rinto S. mengatakan, TRC Mangkutup memiliki nilai strategis sebagai laboratorium alam untuk mendukung riset berkelanjutan di bidang lingkungan dan sosial budaya masyarakat sekitar hutan.

“Berbagai penelitian yang telah dan sedang dilakukan di TRC Mangkutup mencakup bidang kehutanan, konservasi orangutan, keanekaragaman hayati, serta kajian sosial dan budaya masyarakat sekitar kawasan hutan,” ujar Yoksan belum lama ini.

Ia menjelaskan, melalui kegiatan riset yang berkelanjutan, TRC Mangkutup diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung praktik pengelolaan hutan lestari.

Disisi lain, Direktur Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut Universitas Palangka Raya (PPIIG-UPR), Hendrik Segah, menilai komitmen PT IFP menyediakan kawasan konservasi sebagai lokasi penelitian mencerminkan sinergi dunia usaha, akademisi, dan peneliti dalam mendorong pelestarian lingkungan serta pembangunan berkelanjutan.

“Pendekatan multidisiplin ini bertujuan menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara ekosistem hutan, satwa liar, dan dinamika sosial masyarakat lokal,” kata Hendrik.

Penelitian yang dilakukan meliputi pemantauan vegetasi, inventarisasi flora dan fauna, restorasi ekosistem, hingga kajian habitat dan perilaku orangutan sebagai satwa dilindungi.

Kegiatan riset di TRC Mangkutup melibatkan akademisi dari Universitas Palangka Raya dan Universitas Lampung, peneliti dari berbagai lembaga riset, serta mahasiswa pascasarjana dari Australian National University Canberra, Universitas Mulawarman, dan Universitas Hindu Indonesia.

“Kolaborasi ini memperkuat pertukaran pengetahuan sekaligus pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang konservasi,”katanya menambahkan.

Hasil penelitian tersebut tidak hanya memperkaya kajian akademik, tetapi juga menjadi dasar rekomendasi kebijakan, pengelolaan kawasan konservasi, serta pemberdayaan masyarakat sekitar.(sct)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *