Keterlibatan Masyarakat Kunci Keberhasilan Restorasi Gambut Berkelanjutan

PALANGKARAYA – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU menegaskan keterlibatan masyarakat menjadi faktor paling penting dalam proyek percontohan restorasi dan pengelolaan ekosistem gambut di kawasan hutan Provinsi Kalimantan Tengah yang berlokasi di Kabupaten Kapuas.

Ia menyebutkan masyarakat di Desa Sea Ahas, Desa Katunjung, dan Desa Tumbang Mangkutup memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan program restorasi gambut yang saat ini dijalankan melalui kolaborasi antara Universitas Palangka Raya, PT Sumitomo Forestry Indonesia (PT SFI), serta masyarakat setempat.

Keterlibatan masyarakat dilakukan melalui kegiatan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memahami dan menyetujui pelaksanaan program secara terbuka dan transparan.

“Melalui kegiatan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA), peranan masyarakat suatu hal yang sangat penting. Apa pun bentuk teknologi yang diterapkan dalam proses pengelolaan gambut, tanpa kehadiran masyarakat tidak berjalan optimal,” kata Salampak saat kegiatan penandatanganan bersama antara UPR, PT Sumitomo Forestry Indonesia, dan masyarakat di Palangkaraya, Jumat (13/03/2026).

Ia menegaskan masyarakat merupakan kunci utama dalam setiap tahapan kegiatan restorasi gambut, mulai dari proses perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.

Tanpa keterlibatan masyarakat, kata Prof.Salampak, berbagai upaya pengelolaan dan pemulihan ekosistem gambut tidak dapat berjalan dengan baik karena masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dan memahami kondisi lingkungan di wilayah tersebut.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal masyarakat dalam proses pengelolaan gambut, sehingga pendekatan modern yang diterapkan tetap selaras dengan nilai-nilai budaya serta praktik lokal yang telah lama berkembang.

Dirinya juga menjelaskan bahwa pelaksanaan PADIATAPA juga sejalan dengan falsafah Huma Betang yang menjadi nilai kebersamaan masyarakat Kalimantan Tengah, yakni menghargai berbagai kepentingan dan perbedaan untuk disatukan dalam visi dan semangat yang sama.

“Kita tahu gambut merupakan ekosistem yang sangat penting dan juga ekosistem yang rawan terhadap bencana, seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya ketika kita dihadapkan dengan kabut asap,” katanya menambahkan.

Melalui kerja sama proyek percontohan dan model restorasi serta pengelolaan ekosistem gambut di kawasan hutan Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Kapuas antara Universitas Palangka Raya dan PT Sumitomo Forestry Indonesia, diharapkan upaya pemulihan lingkungan dapat berjalan berkelanjutan serta memberikan manfaat jangka panjang.

Prof.Salampak menilai program tersebut bukan hanya bertujuan memulihkan kondisi ekosistem gambut, tetapi juga menjadi investasi lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Sementara itu, perwakilan PT Sumitomo Forestry Indonesia, Masanobu Nishikawa menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan persetujuan terhadap pelaksanaan proyek percontohan dan model restorasi serta pengelolaan ekosistem gambut di kawasan hutan Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Kapuas.

“PT Sumitomo Forestry Indonesia sudah mempersiapkan proyek sejak lama dan hari ini kami menerima persetujuan resmi dari semua pihak. Kami merasa hal ini merupakan kepercayaan yang sangat besar dan kami akan bekerja keras untuk memenuhi harapan masyarakat,” kata Masanobu.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan proyek restorasi gambut tersebut sangat bergantung pada dukungan dan partisipasi masyarakat, serta sinergi bersama pemerintah, pemerhati lingkungan atau NGO, dan kalangan akademisi yang terus mendukung pelaksanaan program secara berkelanjutan.

“Kami menyadari masyarakat menjadi kunci keberhasilan proyek ini, karena itu dukungan pemerintah, pemerhati lingkungan, organisasi nonpemerintah, dan akademisi sangat dibutuhkan agar program restorasi gambut dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” tandas Masanobu. (sct)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *